Tuhan Telah Mati
(?)
Jika katanya Tuhan mati, setidaknya vacum, setelah
menciptakan semesta, siapa yang mengabari kematian-Nya?
Bayangkan saja.
Para Malaikat, versi orang-orang percaya, akan menggaungkan suara
kesedihan karena kepergian Tuhan. “Mengapa Engkau meninggalkan
kami?” kata mereka dengan tetesan air mata cahya yang tak ada
habis-habisnya mengalir.
Sedihlah rasanya.
Atau versi orang-orang tak percaya, setiap komponen semesta; ruang,
waktu, materi, dan energi akan menjerit. Meraung-raung karena Bapak
yang menciptakan mereka mati, setidaknya tak bertugas lagi.
Ah, aku lupa mereka tak punya perasaan.
Tuhan telah mati, katanya.
Tugas semesta akhirnya dijalankan
oleh para karya-Nya. Hukum alam yang kini
berlaku di semesta.
Tak ada lagi kasih sayang.
Yang ada kekejaman karena tak ada lagi emosi Maha Segala yang bisa
melonggarkan hukum pada orang-orang yang dicinta-Nya.
Ya!
Kau bilang itu nepotisme, soal Tuhan yang pilih kasih katamu.
Kubilang tak begitu, Mas.
Cinta itu segalanya. Semua dilandaskan padanya. Bahkan hukuman dan
kompensasi pun berdasar padanya.
Kita bicara soal Tuhan.
Karena Dia tak akan salah memberikan cinta.
Bukan begitu?
BERARTI TUHAN SUBJEKTIF! Teriakmu.
Kutanya padamu, apa yang subjektif bagi Tuhan? Apa pula objektif bagi
Tuhan? Apa, Mas?
Pokoknya jika Tuhan mati, setidaknya vacum,
kubilang Tuhan tega sekali.
Kalau begitu, Dia jahat meninggalkan karya-Nya. Kita karya yang
terlantar.
Jika Tuhan benar-benar mati, Dialah yang pertama kali mengajarkan
kita, karya-Nya, tentang kebangsatan mutlak.
Seharusnya kita menginduk pada-Nya.
Buat apa ragu lagi untuk menghancurkan sesama?
Sekarang ambil parang!
Tebas kepala teman, keluarga, dan anak-anak kita!
Kita harus menginduk pada-Nya.
Kamar Asrama, Malam Hari, 10 Menit Menjelang Laptop Mati
6 Agustus 2015





0 komentar:
Posting Komentar