Sajak Orang Bloon


oleh Boby Anggara

Orang itu kulihat berlari keluar kampungnya sambil menyanyikan kidung kerendahan hati.

Jaket gunung hijau bahan parasut memeluk tubuh kurusnya.

Tak ada ransel yang biasa bergoyang-goyang menepuk punggung.

Hanya kresek yang tergantung, nampak risih ia akan suara kidung.

Pokok-pokok beringin menatap orang itu.

Akar-akar gantung melambai, mengusik angin.

Mungkin ia minta angin menegur orang yang berlari itu.

Diam lebih baik, katanya dalam imajiku.

Namun orang itu masih berlari.

Kidung masih dan akan selalu tersambung.

Dalam pikirku, ia terlihat anggun ketika melompat seraya melambungkan suara dua oktafnya pada bioma di sekitarnya.

Namun entah yang ada pada benak bioma.

Aku tak pernah tahu jalan pikiran alam.



Orang itu mengarah gunung yang tampak tua.

Tubuhnya berkeriput dan nampak tak segagah sebelas atau dua belas abad sebelumnya.

Namun anehnya, gunung nampak tak terima kedatangan orang itu.

Usir dia, ungkap gunung dalam imajiku.

Hanya heran yang membungkus kesadaranku.

Mengapa?

Kulihat orang itu baik-baik saja.


Gunung tua muntah.

Jijik melihat orang itu.

Aku heran mengapa bumi bergetar.

Orang itu masih saja tenang.

Dalam imajiku, sang gunung baru saja mengutuknya.

Ah, aku baru sadar.

Pemuda itu mau tiarap di tempat tinggi.

Bloon.

Bogor, 13 Agustus 2015

0 komentar:

Posting Komentar

 
Distributed by: best blogger template of 2011free blog template 01 - photo folio | best vpn windows 8 best vpn hide ip