Grendel Pintu (Raungan Religius)


Grendel Pintu
oleh Boby Anggara

Iya tah? Kau tanyaku. Kujawab iya.
Iya kah? Kau tanyaku. Kujawab iya.
Iya ke? Kau tanyaku. Kujawab iya.

Apa kata yang lebih tepat ketika Kau tanyaku selain iya. Seiya sekata. Kukata padaMu, aku dengar, aku turuti.

Ini sebuah janji yang lama kulupakan. Janji yang lama kutinggalkan ditutupi kelambu-kelambu yang kudapat di rumah pelacuran. Rumah-rumah penuh api. Bau asap. Bau buhul yang ditiup oleh wanita-wanita bergincu hitam berambut panjang dengan uban dan wajah menyeramkan. Ini tentang aku yang ingin mengambil janji itu. Ini aku yang mulai terduduk di kala kata dijerat oleh kuasaMu. O, aku bimbang. Darahku masih menempel di kelambu-kelambu itu. Ususku masih bergantung pada grendel pintu itu. Pada nama yang kusebut sebagai, Hawaku itu. Ah, aku bimbang.


Ingin kudatangimu. Ingin kupeluk tubuh universalMu. Ingin kukecup kening tak nampakMu. Izinkan aku!

O

Ini cintaku padaMu. Yang berbalut serbet kotor bekas darah yang memancar dalam kemulan itu. Kini aku masih busuk. Kini aku menghadapMu dengan badan tengik. Kini aku menjemputMu dengan wajah tak bermuka. Wajah yang lebih hina dari babi dan keledai. Wajah yang lebih nista dari monyet dan anjing hutan. Wajahku yang hina nista ini!

O

Aku datang wahai Kau Yang Asing!
Kau Yang Tak Dikenal!
Kau Yang Tak Dirupa!
Kau Yang Tak Dijumpa!

Ini aku yang merengek lewat lubang-lubang parit di pinggiran kota. Merangkak. Menyayat-nyayat kulit dengan gesekan pisau-pisau yang tertancap di warung-warung internetan. Dengan segala layar penampak wanita-wanita tak berupa. Wanita-wanita yang menggoda. O!

Ini aku datang dengan wajah sendu. Babak belur ditambah sedikit dramatisir oleh darah yang kubilang sebelumnya. Darah yang kudapat di dalam kemulanku bersama wanita-wanita itu. O! Aku ingin meraihMu. Ingin menjumpaMu. Ingin meciumMu. Namun aku tak bisa. Aku tak sanggup. Aku nista hina.

Secuil cahya kau percikkan pada rona kegelapan di depanku. Kau berikan aku waktu. Kau berikan aku alasan yang tepat untuk melepaskan gantungan ususku pada grendel pintu rumah pelacuran itu. Kau beri waktuku tuk bersihkan darah yang menempel pada wajahku. Pada betisku. Pada pahaku.

Ini aku yang sekarang menatapMu. Ini aku yang memelukMu. Ini aku yang tidur manja dalam pangkuanMu.

Kota Hujan, 26 Mei 2015.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Distributed by: best blogger template of 2011free blog template 01 - photo folio | best vpn windows 8 best vpn hide ip