Timang-timang (Raungan Religius)


Timang-Timang

Raga dipikul beban rasa sakit itu kini kau rasa bersamaku. Kulupakan adalah dirimu yang kian kelabu di tengah obor-obor nafsu yang mengepulkan asap kesetiaan. Bergelut dalam nyawa yang dikandung oleh tubuh busuk yang menghangus terbakar nafsu yang dipantik dari korek kayu yang disiram bensin. Mungkin aftur. Apinya begitu besar. Kita bergelut dalam nafsu. Bersekongkol dalam gelap. Bergandeng dalam kebusukkan yang kian tengik dalam sekian kata. Api. Katakan padaku bahwa kau dirasa rugi karena kami pakai dirimu. Tubuhmu. Untuk membakar setiap nafsu kami. Setiap darah kotor kami. Setiap awan-awan yang membubung di kolam pemandian bidadari-bidadari. O. Kita awan asa dalam satu darah. Kita satukan nafsu kita. Kita gabungkan hawa kita. Kita bergelut dalam satu rasa. Hawa. Nafsu.

Na'udhzubillah.

Kita sama menyebut dalam kemunafikan. Dalam kegelapan. Dalam kegamangan. Dalam kesepian yang terbungkus malam di kamar kosan yang remang. Oy rasa ini! Kita masih bergelut dalam rasa. Dalam nada. Dalam derita yang kita bagi bersama. Kita satukan kita. Kita gabungkan rasa.

Na'udhzubillahissami il'alimi minasyaithonirrojim.

Kusebut itu dan kau terdiam. Kita masih berdua. Kita masih bersama. Kau baca niatku yang ingin tinggalkanmu. Kau pindai nuraniku yang ingin jauh darimu. Kau katakan padaku bahwa jangan pergi darimu. Namun aku tak mau tahu. Aku tak mau tahu. Kumau pergi dari kau.
Kau adalah aku. Kau adalah hawa nafsuku.
Kota Hujan, 26 Mei 2015

0 komentar:

Posting Komentar

 
Distributed by: best blogger template of 2011free blog template 01 - photo folio | best vpn windows 8 best vpn hide ip