Timang-Timang
Raga dipikul beban rasa sakit itu kini kau rasa bersamaku. Kulupakan
adalah dirimu yang kian kelabu di tengah obor-obor nafsu yang
mengepulkan asap kesetiaan. Bergelut dalam nyawa yang dikandung oleh
tubuh busuk yang menghangus terbakar nafsu yang dipantik dari korek
kayu yang disiram bensin. Mungkin aftur. Apinya begitu besar. Kita
bergelut dalam nafsu. Bersekongkol dalam gelap. Bergandeng dalam
kebusukkan yang kian tengik dalam sekian kata. Api. Katakan padaku
bahwa kau dirasa rugi karena kami pakai dirimu. Tubuhmu. Untuk
membakar setiap nafsu kami. Setiap darah kotor kami. Setiap awan-awan
yang membubung di kolam pemandian bidadari-bidadari. O. Kita awan asa
dalam satu darah. Kita satukan nafsu kita. Kita gabungkan hawa kita.
Kita bergelut dalam satu rasa. Hawa. Nafsu.
Na'udhzubillah.
Kita sama menyebut dalam kemunafikan. Dalam kegelapan. Dalam
kegamangan. Dalam kesepian yang terbungkus malam di kamar kosan yang
remang. Oy rasa ini! Kita masih bergelut dalam rasa. Dalam nada.
Dalam derita yang kita bagi bersama. Kita satukan kita. Kita
gabungkan rasa.
Na'udhzubillahissami il'alimi minasyaithonirrojim.
Kusebut itu dan kau terdiam. Kita masih berdua. Kita masih bersama.
Kau baca niatku yang ingin tinggalkanmu. Kau pindai nuraniku yang
ingin jauh darimu. Kau katakan padaku bahwa jangan pergi darimu.
Namun aku tak mau tahu. Aku tak mau tahu. Kumau pergi dari kau.
Kau adalah aku. Kau adalah hawa nafsuku.
Kota Hujan, 26 Mei 2015





0 komentar:
Posting Komentar