Robo Jerigen



Robo Sapien, sebuah film keluarga tentang robot pintar.
Ahli benar ia melakukan banyak hal.
Membuat banyak orang bahagia.
Ah, lupakan tentang acting tak naturalnya.
Saya ingin lebih fokus pada ide ceritanya.

Robo Sapien.
Bayangkan saja, akan semakin banyak ego di dunia jika robot ikut serta punya 'jiwa'. Semakin banyak keangkuhan. Semakin banyak perang, mungkin saja.

Semakin banyak pula antrean panjang dengan jerigen di tangan masing-masing. Menunggu bahan bakar, mungkin oli atau bensin.
Tapi bagaimana jika robot-robot mengkonsumsi listrik? Atau mungkin air?
Tapi mungkin saja pisang goreng?!
Sialan.
Akan banyak saingan untuk membeli pisang goreng nantinya.

Bila romadhon tiba, masjid dipenuhi makhluk bertubuh besi dan baja.
Tunggu dulu... Apa agama robot? Apakah robot perlu agama?
Apakah robot akan mendapat penghakiman setelah hari kiamat?
Ah sial! Enak sekali mereka bisa berbuat sesukanya.

Dan lagi.. bila robot ada jiwa, siapa yang mereka pilih ketika pemilu?
Caleg yang bertampang paling tampan/cantik?
Atau... Ya Presiden! Bagaimana dengan presiden?
Robot bisa mencalonkan diri sebagai presiden?
Ah, mati saja.

Jika memang robot juga akan memiliki jiwa, aku bingung mau bilang apa.
2015

Aku Ingin Menjadi Kursi (Raungan Religius)


oleh Boby Anggara

Tuhan ada pada prasangka makhluk-Nya.
Jika dianggap ada, Dia ada.
Jika dianggap tiada, terserah saja.

Aku mulai lelah dengan semua ini.
Dengan setiap cengkeraman tanganku.
Pada batu-batu tajam di tebing amat curam.

Mencari kebenaran Engkau ada atau tidaknya.
Sama saja bernafas pada kabut pekat beracun asam.
Aku tercekik.
Aku hampir mati.

Argumen dan sangkaan tentang-Mu bahkan bisa kuruntuhkan sendiri.
Ia terlalu rapuh.
Ia searti dzarrah memikul surya.
Langsung luluh runtuh ia sekejap mata.

Tak ada lagi jalan keluar.
Aku terkepung.
Aku tak bisa lari.

Tuhan bukan objek penelitian.
Yang bisa diuji seenaknya, yang bisa dipermainkan sesukanya.

Hanya berkutat dengan perdebatan eksistensi-Mu.
Benar-benar membuang waktu sementaraku.
Pencipta adalah Yang Mencipta.
Tak akan pernah ada kursi berdebat tentang siapa tukang meubel yang memproduksinya.
Yang kita tahu, kursi hanya menjalankan apa gunanya.
Sebagai sandaran orang-orang yang keletihan.
Atau mungkin sebagai singgasana orang-orang tua.
Menemaninya menghadap maut di depan mata.

Aku ingin menjadi kursi.
Yang tak pernah protes digunakan siapa saja.
Yang tak pernah memperdebatkan siapa tukang meubel yang menciptakannya.

Bogor, 15 Agustus 2015

Sajak Orang Bloon


oleh Boby Anggara

Orang itu kulihat berlari keluar kampungnya sambil menyanyikan kidung kerendahan hati.

Jaket gunung hijau bahan parasut memeluk tubuh kurusnya.

Tak ada ransel yang biasa bergoyang-goyang menepuk punggung.

Hanya kresek yang tergantung, nampak risih ia akan suara kidung.

Pokok-pokok beringin menatap orang itu.

Akar-akar gantung melambai, mengusik angin.

Mungkin ia minta angin menegur orang yang berlari itu.

Diam lebih baik, katanya dalam imajiku.

Namun orang itu masih berlari.

Kidung masih dan akan selalu tersambung.

Dalam pikirku, ia terlihat anggun ketika melompat seraya melambungkan suara dua oktafnya pada bioma di sekitarnya.

Namun entah yang ada pada benak bioma.

Aku tak pernah tahu jalan pikiran alam.



Orang itu mengarah gunung yang tampak tua.

Tubuhnya berkeriput dan nampak tak segagah sebelas atau dua belas abad sebelumnya.

Namun anehnya, gunung nampak tak terima kedatangan orang itu.

Usir dia, ungkap gunung dalam imajiku.

Hanya heran yang membungkus kesadaranku.

Mengapa?

Kulihat orang itu baik-baik saja.


Gunung tua muntah.

Jijik melihat orang itu.

Aku heran mengapa bumi bergetar.

Orang itu masih saja tenang.

Dalam imajiku, sang gunung baru saja mengutuknya.

Ah, aku baru sadar.

Pemuda itu mau tiarap di tempat tinggi.

Bloon.

Bogor, 13 Agustus 2015

Masa Depan Indonesia Tanpa Kalimat; 'Perbedaan itu Indah' (Kidung Rakyat)


Indonesia, sebuah nama tentang sekelompok orang berbeda. Memiliki keyakinan berbeda satu sama lain. Berbeda budaya, adat, suku, dan juga jangan lupakan kondisi fisik juga. Indonesia tak homogen. Setiap manusia Indonesia menggunakan prinsip Pancasila dalam menghadapi setiap masalanya. Indonesia, sebuah kata lain untuk mnjelaskan makna 'berbeda-beda namun tetap satu jua'.
Sekarang kita lihat Indonesia penuh warna. Banyak beranggapan, idealnya kita tingkatkan tenggang rasa. Sebuah sugesti untuk menghargai sesama. Ditanamkan dengan sekian kata.
Kulihat Indonesia, karena keberagamannya, terpicu pula banyak pertentangan dimana-mana. Konflik suku, ras, adat dan agama, seakan menjadi momok di atas tanah Indonesia. Belum lagi dengan ekonominya. Ada yang bermegah-megah dengan kendaraan berbagai warna dan rupa, adapula yang membeli susu untuk bayi saja tak bisa. Ini tentang Indonesia dan segala keterbatasannya karena sebuah hal yang mutlak adanya; perbedaan di setiap pelosoknya.
Berbeda disebut-sebut sebagai hal indah bagi orang-orang yang mempercayainya. Namun kenyataannya berbeda terkadang membawa bencana. Lalu apakah konflik sudah menjadi kecenderungan manusia? Yang sudah mendarah daging di setiap otot, tulang, dan aorta-vena manusia, khususnya manusia Indonesia? Siapa yang mesti disalahkan? Apakah Tuhan itu sendiri sebagai Pencipta Perbedaan?
Mungkin sekarang kita masih bisa melihat rona-rona kedamaian dalam jiwa. Masih ada bidang datar yang masih bisa dimuati dengan toleransi dan tenggang rasa. Namun suatu saat nanti, jika perbedaan dibiarkan saja, apakah tetap begini adanya?
Perbedaan memang tak bisa dihilangkan sepenuhnya karena sudah menjadi kodrat Maha Kuasa. Namun kita masih bisa meminimalisirnya. Kita masih bisa membendung perbedaan meski tak semua. Tak perlulah naif dengan mangatakan perbedaan itu indah. Perbedaan itu adalah masalah yang sebenarnya sudah melekat dalam nadi dan jiwa kita. Namun masalah ini akan selalu ada, tak akan pernah hilang.
Membiarkan perbedaan terus berkembang, sama saja membiarkan potensi masalah tumbuh subur di atas tanah. Mau tak mau, kita harus meminimalisirnya. Sebisa mungkin kita tanam keinginan untuk bersama-sama untuk sama.
Bagaimana caranya?
Langkah selanjutnya, mengapa kita tak mengkritisi negara? Apakah neegara mampu menyatukan bangsa? Apakah 'doktrin' negara dapat meminimalisir perbedaan dengan cara mengganti pola pikir orang-orang bahwa kita ini sama-sama disatukan dengan bendera yang sama? Apakah negara adalah cara jitu untuk mengurangi konflik dan sejenisnya? Apakah bisa? Bisa. Setidaknya berefek juga dalam pola pikir masyarakat untuk tetap saling menoleransi satu sama lain.
Maksud saya di sini hanya meluruskan pandangan bahwa perbedaan bukanlah keindahan. Namun perbedaan adalah masalah yang akan terus ada dan harus diminimalisir. Salah satu cara meminimalisirnya adalah dengan negara itu sendiri. Ia (negara) berfungsi sebagai perekayasa otak orang-orang untuk tetap bersatu dan bertoleransi satu sama lain. Ia juga berperan penting dalam mengatur sistem hukum, birokrasi, dan segala tetek bengek urusan negara. Jadi maksud saya, adalah sebuah hal yang rancu bila sebuah negara berkata bahwa perbedaan adalah hal yang indah dan harus tetap dijaga sedangkan fungsi negara itu sendiri adalah meminimalisir perbedaan.
Dengan begitu setidaknya di masa depan manusia Indonesia tak terperdaya lagi dengan kata-kata, 'perbedaan itu indah', yang terkesan luar biasa. Karena bisa saja karena pandangan 'perbedaan itu indah', orang-orang akan memaklumi segala perbedaan, meskipun hal itu tidak pernah sesuai dengan nilai dan norma Indonesia.

Tuhan Telah Mati (?) (Raungan Religius)


Tuhan Telah Mati (?)

Jika katanya Tuhan mati, setidaknya vacum, setelah menciptakan semesta, siapa yang mengabari kematian-Nya?

Bayangkan saja.

Para Malaikat, versi orang-orang percaya, akan menggaungkan suara kesedihan karena kepergian Tuhan. “Mengapa Engkau meninggalkan kami?” kata mereka dengan tetesan air mata cahya yang tak ada habis-habisnya mengalir.

Sedihlah rasanya.

Atau versi orang-orang tak percaya, setiap komponen semesta; ruang, waktu, materi, dan energi akan menjerit. Meraung-raung karena Bapak yang menciptakan mereka mati, setidaknya tak bertugas lagi.

Ah, aku lupa mereka tak punya perasaan.

Tuhan telah mati, katanya.

Tugas semesta akhirnya dijalankan oleh para karya-Nya. Hukum alam yang kini berlaku di semesta.

Tak ada lagi kasih sayang.
Yang ada kekejaman karena tak ada lagi emosi Maha Segala yang bisa melonggarkan hukum pada orang-orang yang dicinta-Nya.

Ya!

Kau bilang itu nepotisme, soal Tuhan yang pilih kasih katamu.

Kubilang tak begitu, Mas.

Cinta itu segalanya. Semua dilandaskan padanya. Bahkan hukuman dan kompensasi pun berdasar padanya.

Kita bicara soal Tuhan.

Karena Dia tak akan salah memberikan cinta.

Bukan begitu?

BERARTI TUHAN SUBJEKTIF! Teriakmu.

Kutanya padamu, apa yang subjektif bagi Tuhan? Apa pula objektif bagi Tuhan? Apa, Mas?

Pokoknya jika Tuhan mati, setidaknya vacum, kubilang Tuhan tega sekali.

Kalau begitu, Dia jahat meninggalkan karya-Nya. Kita karya yang terlantar.

Jika Tuhan benar-benar mati, Dialah yang pertama kali mengajarkan kita, karya-Nya, tentang kebangsatan mutlak.

Seharusnya kita menginduk pada-Nya.
Buat apa ragu lagi untuk menghancurkan sesama?

Sekarang ambil parang!
Tebas kepala teman, keluarga, dan anak-anak kita!

Kita harus menginduk pada-Nya.

Kamar Asrama, Malam Hari, 10 Menit Menjelang Laptop Mati

6 Agustus 2015

Timang-timang (Raungan Religius)


Timang-Timang

Raga dipikul beban rasa sakit itu kini kau rasa bersamaku. Kulupakan adalah dirimu yang kian kelabu di tengah obor-obor nafsu yang mengepulkan asap kesetiaan. Bergelut dalam nyawa yang dikandung oleh tubuh busuk yang menghangus terbakar nafsu yang dipantik dari korek kayu yang disiram bensin. Mungkin aftur. Apinya begitu besar. Kita bergelut dalam nafsu. Bersekongkol dalam gelap. Bergandeng dalam kebusukkan yang kian tengik dalam sekian kata. Api. Katakan padaku bahwa kau dirasa rugi karena kami pakai dirimu. Tubuhmu. Untuk membakar setiap nafsu kami. Setiap darah kotor kami. Setiap awan-awan yang membubung di kolam pemandian bidadari-bidadari. O. Kita awan asa dalam satu darah. Kita satukan nafsu kita. Kita gabungkan hawa kita. Kita bergelut dalam satu rasa. Hawa. Nafsu.

Na'udhzubillah.

Kita sama menyebut dalam kemunafikan. Dalam kegelapan. Dalam kegamangan. Dalam kesepian yang terbungkus malam di kamar kosan yang remang. Oy rasa ini! Kita masih bergelut dalam rasa. Dalam nada. Dalam derita yang kita bagi bersama. Kita satukan kita. Kita gabungkan rasa.

Na'udhzubillahissami il'alimi minasyaithonirrojim.

Kusebut itu dan kau terdiam. Kita masih berdua. Kita masih bersama. Kau baca niatku yang ingin tinggalkanmu. Kau pindai nuraniku yang ingin jauh darimu. Kau katakan padaku bahwa jangan pergi darimu. Namun aku tak mau tahu. Aku tak mau tahu. Kumau pergi dari kau.
Kau adalah aku. Kau adalah hawa nafsuku.
Kota Hujan, 26 Mei 2015

Kebetulan Aku Suka Es Krim (Raungan Religi)


Kebetulan Aku Suka Es Krim

Aku sadar kalau aku ada
Aku tercipta dari apa?
Siapa yang mencipta?
Atau apa yang mencipta?

Kutercipta mungkin dari kemungkinan acak yang sangat kebetulan
Kebetulan aku dilahirkan Mamah
Kebetulan aku dikeluarkan Ayah
Kebetulan aku dipadu ketika masih berbentuk sel mungil, kecil, dengan ekor berpusing-pusing

Kebetulan aku ada
Kebetulan aku sadar
Kesadaranku kebetulan bisa ada
Tanpa ada yang mencipta

Kebetulan aku suka wanita
Kebetulan aku senang beli jajan
Kebetulan aku suka es krim rasa coklat, vanila, atau stroberi

Ya, kebetulan sekali
Kebetulan sekali aku bisa memikirkan pencipta
Kebetulan sekali
Yang ciptaku tak ada, aku lahir dari kebetulan, dan kebetulan aku bertanya-tanya siapa pencipta

Jangan-jangan kebetulan itu yang menciptaku
Kebetulan itu tuhan?
Kebetulan kesadaranku mengalahkan kesadaran yang ciptaku
Kebetulan aku jadi gila

Kebetulan sekali, ya?

Kamar Asrama, Malam Hari Jam 10 Laptop Harus Mati
5 Agustus 2015

Sajak Orang Percaya (Raungan Religius)


Sajak Orang Percaya

Bukanlah kumaksudkan untuk mendeskriminasi mereka-mereka yang tak percaya, yang tak ingin memilih untuk memegang tali kekang kehidupan liar. Tak ada maksud begitu. Sedikitpun.

Aku hanya bosan ketika ada saja ocehan orang-orang yang mengibarkan bendera toleransi tapi kami seakan disudutkan, dianggap mafia politik yang dikata mendistorsi isi kitab kami demi keuntungan sendiri. Aku atas nama sesuatu yang kami pegang, melawan mereka-mereka yang seakan berlepas dari doktrin namun kulihat mereka juga mendoktrin orang-orang habis-habisan, sampai putus urat leher lebih-lebih tangan. Jangan salah sangka. Aku hanya tak suka mereka-mereka, bukan kau atau dirimu, orangtuamu, kerabatmu, sahabatmu, atau mungkin nenek kakek sepuhmu.

Jangan pula kau anggap aku produk terbaik dari apa yang kami percaya. Aku bukan ulama, pendeta, lebih-lebih santo atau rasul-Nya. Aku bukan juga titisan dewata dari nirvana-nirvana, atau buddha-buddha yang lahir pada moksa-moksa atau manusa-manusa yang baru berlepas dari siklus reinkarnasi dan dunia fana.

Aku hanya manusia biasa. Sama seperti mereka. Sama seperti kau, mungkin saja.

Malam di Kamar Asrama
Cibanteng, 4 Agustus 2015

Serban (Raungan Religius)


Serban
oleh Boby Anggara

Kulum terus permen berbalut coklat samsara itu!
Kulum terus hingga liurmu terpuas dengan tangis para petani-petani miskin dan buruh-buruh pilu yang menyusui anaknya dengan tajin dan tak jarang keringat sendiri itu!

Puaskan dirimu!
Puaskan dirimu dengan api yang tempo hari kau buat melalui angkara murka di seberang sana!
Makan terus jantung yang teronggok di pinggir jalan raya dengan mangkuk dan receh yang berwarna kunyit dan oli itu!

Salurkan saja seluruh hasratmu dalam kata yang terbata di tengah hiruk pikuk kota saat kau saksikan pemuda-pemuda berloncatan, memamerkan kehebatan benda yang tak jauh dari kandung kemih itu!


Relatifitas (Raungan Religius)


Relatifitas
oleh Boby Anggara

Bara bukan api
Bukan tanah
Bukan surga
Bukan awan yang menghilang di kala angin menerpa

Tertua bukan paling tua
Bukan nenek
Bukan kakek
Bukan sekedar kubilang kau tahu, kau bilang kutahu

Porno bukan telanjang
Bukan seks
Bukan senggama
Bukan setubuh

Mereka meneriakkan dengan sudut pandang rendah
Kukira kau tahu bahwa Tuhan Maha Tahu

Grendel Pintu (Raungan Religius)


Grendel Pintu
oleh Boby Anggara

Iya tah? Kau tanyaku. Kujawab iya.
Iya kah? Kau tanyaku. Kujawab iya.
Iya ke? Kau tanyaku. Kujawab iya.

Apa kata yang lebih tepat ketika Kau tanyaku selain iya. Seiya sekata. Kukata padaMu, aku dengar, aku turuti.

Ini sebuah janji yang lama kulupakan. Janji yang lama kutinggalkan ditutupi kelambu-kelambu yang kudapat di rumah pelacuran. Rumah-rumah penuh api. Bau asap. Bau buhul yang ditiup oleh wanita-wanita bergincu hitam berambut panjang dengan uban dan wajah menyeramkan. Ini tentang aku yang ingin mengambil janji itu. Ini aku yang mulai terduduk di kala kata dijerat oleh kuasaMu. O, aku bimbang. Darahku masih menempel di kelambu-kelambu itu. Ususku masih bergantung pada grendel pintu itu. Pada nama yang kusebut sebagai, Hawaku itu. Ah, aku bimbang.


 
Distributed by: best blogger template of 2011free blog template 01 - photo folio | best vpn windows 8 best vpn hide ip