Serban
oleh
Boby Anggara
Kulum terus permen berbalut coklat samsara itu!
Kulum terus hingga liurmu terpuas dengan tangis para petani-petani
miskin dan buruh-buruh pilu yang menyusui anaknya dengan tajin dan
tak jarang keringat sendiri itu!
Puaskan dirimu!
Puaskan dirimu dengan api yang tempo hari kau buat melalui angkara
murka di seberang sana!
Makan terus jantung yang teronggok di pinggir jalan raya dengan
mangkuk dan receh yang berwarna kunyit dan oli itu!
Salurkan saja seluruh hasratmu dalam kata yang terbata di tengah
hiruk pikuk kota saat kau saksikan pemuda-pemuda berloncatan,
memamerkan kehebatan benda yang tak jauh dari kandung kemih itu!
Kini beberapa orang mengkaji kitab kuning dan masih saja melantunkan sholawat dan pujian kepada Tuhan dengan welas asih yang jelas nampak di sela air mata yang luruh dengan setiap kata-kata cinta.
Bunuh buhul-buhul yang bergoyang di atas malam yang kejam yang
teronggok di atas jalanan mencoba mencelakakan orang-orang!
Sekarang kau lagi yang membunuh ruh-ruh mereka dengan alunan suara
setan yang menggigit telinga-telinga malam, bergoyang-goyang,
bersenang-senang, berenang-renang.
Kau hidupkan pesta bikini sedang zikir kau kata lantunan setan yang
menjadi-jadi.
O permata malam!
Kupu-kupu yang lama terbang!
Anjing-anjing belang!
Terbakarlah kau dengan amarahmu!
Matilah dengan hasratmu!
Musnahlah kau dengan senyum busukmu!
Kini aku datang dengan welas asihku, datang padamu, tak perlu pedang.
Aku hanya membawa tasbih dan serban, dengan zikir yang masih
melayang, di atas awang-awang.
Cibanteng, 24 Mei 2015





0 komentar:
Posting Komentar