oleh Boby Anggara
Tuhan ada pada prasangka makhluk-Nya.
Jika dianggap ada, Dia ada.
Jika dianggap tiada, terserah saja.
Aku mulai lelah dengan semua ini.
Dengan setiap cengkeraman tanganku.
Pada batu-batu tajam di tebing amat curam.
Mencari kebenaran Engkau ada atau tidaknya.
Sama saja bernafas pada kabut pekat beracun asam.
Aku tercekik.
Aku hampir mati.
Argumen dan sangkaan tentang-Mu bahkan bisa kuruntuhkan sendiri.
Ia terlalu rapuh.
Ia searti dzarrah memikul surya.
Langsung luluh runtuh ia sekejap mata.
Tak ada lagi jalan keluar.
Aku terkepung.
Aku tak bisa lari.
Tuhan bukan objek penelitian.
Yang bisa diuji seenaknya, yang bisa dipermainkan sesukanya.
Hanya berkutat dengan perdebatan eksistensi-Mu.
Benar-benar membuang waktu sementaraku.
Pencipta adalah Yang Mencipta.
Tak akan pernah ada kursi berdebat tentang siapa tukang meubel yang
memproduksinya.
Yang kita tahu, kursi hanya menjalankan apa gunanya.
Sebagai sandaran orang-orang yang keletihan.
Atau mungkin sebagai singgasana orang-orang tua.
Menemaninya menghadap maut di depan mata.
Aku ingin menjadi kursi.
Yang tak pernah protes digunakan siapa saja.
Yang tak pernah memperdebatkan siapa tukang meubel yang
menciptakannya.
Bogor, 15 Agustus 2015





0 komentar:
Posting Komentar